Novita's posts with tag: the blue book

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag the blue book
LinkHere we go again.... *sigh*May 5, '07 8:18 AM
for everyone
Link: http://kusumaningtyaspuji.multiply.com/journal/item/5

Remember this post about some girl who copied a few pages of my novel and claimed that she thought it was her own idea because she accidentally memorized those few pages?

If you DO, then someone thinks you've made a reaaaally big mistake.
(edited: click the above link to Tyas' post and read the replies to see what I mean)

Some people really is living in their own universe, or simply leads a very boring life. Well, I don't deal with these kind of people anyway. But I just hate to see my new friend, Tyas, get this kind of treatment.

Blog EntryJangan Asal Copy Paste! Really?Feb 27, '07 8:16 AM
for everyone
While blogwalking, I found this post in a girl's friendster blog.

---
IYa, saya jadi nerka-nerka. Apa postingan seseorang ini ngutip chicklitnya mbak Novita Estiti ya? Kemaren saya dah nyoba komen di blognya, nanyain, tapi hari ini ketika saya berkunjung lagi, eh...komennya dah di off :D
...
sama persis dengan halaman 210 di novel Subject: Re., cuman tanggalnya aja yang dibedain :D
---

And this is the post (after reading my post here, she has deleted it) she's talking about, written by a person who claims herself as '
a creative female' in her well-maintained blog.

---
Percakapan di Dunia Maya
February 23rd, 2007 by rara

Thursday 08/04/2004

ladyblog: jaka..
ladyblog: BUZZ!
jazzlover: hey, apa kabar
ladyblog: lagi di mana?
jazzlover: biasa lagi di ktr, buruh nih
jazzlover: lg ngapain?
ladyblog: :)
ladyblog: yaaa ngurusin kerja juga dongz! :D
ladyblog: eh enggak deng lagi nulis posting di blog dan chatting hehehe :D
jazzlover: hahaha
jazzlover: wiken kemarin ngapain aja?
ladyblog: abis berantem hiks :(
jazzlover: wah kenapa? ada apa?
ladyblog: yaa gitulah ngomongin soal hubungan asmara yang sudah mau berakhir
ladyblog: rumit, complicated!
jazzlover: wah saya ndak pernah bisa bayangkan kau menangis :D
ladyblog: hah?
jazzlover: hehehe soalnya saya selalu bayangkan kau itu tukang marah-marah dengan dingin dan ketus.
ladyblog: hehehe pertamanya begitu, trus wuaaaa pecah juga :D
ladyblog: sayaaa jugaaa manusiaaaaaa
jazzlover: trus ada penyelesaian masalah nda?
ladyblog: ada sih, tapi menyakitkan.
jazzlover: boleh tau? tapi kalo nda mo jawab juga nda pa pa ji
ladyblog: the relationship will end soon!
ladyblog: sedihnya itu pas anniversary kita yang ke-4 tahun :(
ladyblog: sediiiiih :( :(
jazzlover: yang benerrrr???
ladyblog: iyaa.. huuuu mau nangiiiiis!
jazzlover: sebenarnya yang paling penting adl kamu membuat suatu keputusan yg terbaik utk diri kamu sendiri, bukan demi siapa pun
ladyblog: iya saya sadar itu.. sadar sekali itu..!
jazzlover: boleh tau apa penyebab perpisahan ini?
ladyblog: ah mungkin hubungan ini seharusnya tidak ada
ladyblog: he’s been very nice, trying very hard to follow me, tapi akhirnya tetap nggak bisa dan cape sendiri
jazzlover: dia juga nggak bahagia?
ladyblog: tadinya ndak mo ngaku, akhirnya sadar juga kalau dia nda bahagia
ladyblog: dia bilang usahanya untuk mendekati saya malah membuat dia merasa lebih jauh dari saya, merasa jauh lebih bodoh dan susah mengerti saya
ladyblog: apakah saya sesulit ituuuuu??? i feel so unloveable!
jazzlover: ini bukan keputusan yang tergesa2 kan?
ladyblog: nda juga, cukup lama ini untuk dibicarakan.
ladyblog: bahkan sejak awal hubungan kita pun sudah mulai tercetus
ladyblog: sebenarnya seperti bom waktu, tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk meledak.
jazzlover: semoga perpisahan in bisa berlangsung baik2
ladyblog: iya makasih
ladyblog: dia adalah teman yang sangat baiiiik sekali
jazzlover: saya nda bisa kasih saran apa2 dulu tapi yang jelas kalau ada apa2 saya akan bersedia menjadi pendengar
ladyblog: thx for listening
jazzlover: your welcome
jazzlover: eh btw gimana dengan novel kamu? katanya nulis novel kan?
ladyblog: yeah i’m upposed to write my first novel, then commit suicide kayak sylvia plath
ladyblog: tp krn kayaknya novelnya blum jadi2 ya langsung bunuh diri aja kali ya hehehe
jazzlover: eh iya novelmu belum selesai kan?
jazzlover: nulis cerpen aja lebih pendek
ladyblog: ah tapi kan saya punya jurnal harian di blog
ladyblog: jadi orang2 bisa mengenang saya dengan membaca blog saya, lalu nulis simpati lewat shoutbox atau comment di posting blog saya, boleh juga kan?
jazzlover: “salam kenal, mbak, lho mbaknya udah mati?”
ladyblog: hehehe iya kayak gitu pasti seru
ladyblog: “yaah baru mau kenalan, orangnya sudah bunuh diri”
jazzlover: “waa apdet dong! eh blum ada ya. belum ada internet sih di neraka.”
ladyblog: “your life is very interesting, so is your death”
jazzlover: hahahaha :D :D :D
jazzlover: janji ya jangan bunuh diri dulu
jazzlover: jangan sampai saya baca betulan kayak gitu di blogmu
ladyblog: iya mudah-mudahan :D
jazzlover: jangan dong
ladyblog: :)

ladyblog has signed out. (08/04/2004 11:01 PM)

jazzlover: BUZZ!
jazzlover: BUZZ!
jazzlover: BUZZ!
jazzlover: wah ke mana anak ini kok langsung main kuit aja
jazzlover: browsing ah..

Sebuah browser terbuka di layar komputer itu. 10 jari menari-nari di atas keyboard memasukkan kata-kata ke dalam layar pendar tersebut.

Thursday, April 08, 2004
I need to mourn. I don’t need your presence right now. Setiap orang punya masalah, hadapi saja sendiri-sendiri. Seperti diriku yang akan mengakhiri semuanya di sini.
Saling menemani itu omong kosong.
Untuk jazzloverku, I will miss you so much!
Kita tidak akan bisa bersatu. Love ya.
2 unhappy people = 1 crazy to each other couple
Terima kasih sayang.
posted by ladyblog @ 08/04/2004 11:05 PM·|· Comment (0) | Trackback (0)

jazzlover: BUZZ!
jazzlover: BUZZ!
jazzlover: aaaa jangan mati dulu dong! I love you too! You need to hear that!
---

Well, I have no idea what this girl was thinking, maybe she thought that she could do it better than me, with more suspense whatsoever.
Or maybe she meant it as an ironic writing, and maybe I should just take it as a compliment.

Though I'm really not sure why she has to bother putting those 'Blog juga hasil karya cipta' and 'Jangan asal copy paste' stuffs on her blog.

(she has now changed the template right after reading this posting)

Whatever.


PS:
to Tyas: thank you for reading the book, remembering some lines, and even comparing them.
to Rara / Irayani Queencyputri: well, I've copied-pasted your blog...

Blog EntrySo StupidMar 6, '06 12:45 AM
for everyone
This morning was started with an email from Donna, containing this link.
----------------------------------------------
Senin, 27 Feb 2006,
Berawal dari Coba-Coba

Ini novel pertamaku. Dan langsung melibatkanku dalam konflik dengan penerbit. Sebab, penerbit tanpa seizinku melabeli novel itu dengan chicklit, yang notabene tidak sesuai dengan ceritanya. Yah, begitu deh nasib novelis baru. Maklum, kurang pengalaman. Buatku, menulis itu sekadar mengeluarkan apa yang ada dalam kepala. Karena itu, wajar saja kalau pengalamanku mempengaruhi alur cerita. Karena itu pula, kalau ada orang bilang, novel ini Novita Estiti banget, aku cuek saja. Yang penting, masih ada yang baca. Termasuk kamu kan? Hayo, ngaku! Lagipula, aku yakin belum ada novelis muda di negeri ini yang nekat bikin penulisan ala e-mail. Semua itu berawal dari coba-coba. Aku berharap, dengan gaya penulisanku itu, pembaca mengembangkan imajinasinya. Terus terang, bikin novel ini tidak mudah lho. Apalagi buatku, yang sebelumnya tidak pernah membayangkan bakal jadi novelis. (kee)


Novita Estiti
Pengarang Subject: Re
----------------------------------------------
WHAT THE FUCK??!!
Yes, they've interviewed me several days before over the phone, but the way the've written it made me sounds like a 15 years fucking old.

I sent them this email:

Saya baru saja menemukan ini di situs Jawa Pos, dan terus terang cukup terkejut membaca hasil interview-nya yang membuat saya seolah-olah baru berumur 15 tahun. Maaf ya, saya juga wartawan dan sering meng-interview orang, tapi tidak seperti ini caranya membuat sebuah tulisan. Anda tidak bisa mengubah begitu saja cara penyampaian saya menjadi begitu kekanak-kanakan dan menuliskannya seolah saya sendiri yang mengatakannya.

Saya tidak pernah menggunakan kata 'novelis baru', 'maklum', 'cuek', 'hayo', 'ngaku', dll. Bila Anda ingin tahu bagaimana saya berbicara selama interview dengan saudara K****, kira-kira seperti inilah gaya bahasa yang saya gunakan. Tentu saya mengerti bahwa bagian ini ditujukan untuk pembaca berusia lebih muda, tetapi ada cara lain untuk melakukannya. Terus terang, saya sangat kecewa dengan hal ini. Saya kira J*** P** merupakan media yang terlalu dewasa untuk melakukan manipulasi karakter seperti ini.

Terimakasih.


Blog EntryReview of My Book - from ReeJun 26, '05 9:36 AM
for everyone
Ree's review for my book, SUBJECT: RE:

Beberapa bulan lalu aku tidak tertarik membelinya. Mungkin karena ada label chiclit-nya ya, jadi takut ceritanya biasa aja. Pan chiclit-chiclit di indonesia mah suka ngawang-ngawang…ga pake riset dan setting yang jelas. Tapi pas aku menemukan sebuah blog berwarna ungu yang menarik milik seseorang, aku baru tahu kalau didalamnya ada archive, review dan comment tentang sebuah novel. Wah, tenggelam nih baca semuanya sampai-sampai kerjaan gak selesai.

Judul novelnya, Subject: Re:

Tapi kini aku menamakannya (belum atas ijin penulis)

Subject: Re: dimana letak kebahagiaan?

Ada satir dan ocehan-ocehan sinis, namun tetap menyimpan kekonyolan dan selentingan black humor yang menetralisir atau juga malah bisa memperparah tema novel ini. Memang untuk menetralisir ungkapan-ungkapan sinis, kadang-kadang kita butuh menjarakinya sejenak dengan humor dan kekonyolan agar setidaknya kamu ini bukan orang yang pathetic amat. Ah aku jadi sok sinis nih. Hehe. Selentingan humor ini mungkin bisa menjadi anti-depressant yang manjur sesaat di saat kamu lelah mengeluh. Intinya, jangan anggap seriuslah…namanya juga cerita…yuk kita bedah novel si purple yang super ini. Tentunya dari subjektivitas aku ya.

Hm…mulai dari mana ya Nov?
Ketika negativitas satu bertemu dengan negativitas lainnya, tinggal menentukan siapa yang lebih lemah dan siapa yang lebih kuat menghadapi ketidak- bahagiaannya masing-masing.


Yang pasti aku suka sekali cara Novita merentangkan setiap kesadarannya tentang ketidakbahagiaan. Percakapan-percakapan brilian sekaligus konyol antara Yudha dan Nina mampu membuatku bisa ikut hanyut dalam ketidakbahagiaan yang mengibakan. Percakapan yang dikemas online ini jadi seperti chatters yang menghinggapi pribadi setiap manusia yang rumit. Begitulah orang rumit, selalu mempertanyakan, berusaha untuk selalu menjadi objektif, dan terkadang terpeleset karena bahasa(kata-kata) dan pikiran bisa saling mengkhianati.

Struktur novel ini pun cukup nyaman dibaca, walaupun dikemas ala online messenger-an, toh tidak mengganggu keutuhan cerita. Malahan semakin melebar dan melengkapi. Tidak seperti novel-novel Indonesia berfragmen lainnya yang kadang bikin keutuhan cerita jadi bolong. Novita secara gamblang bisa mengungkapkan kenaifan Nina dan Yudha, tentang the last resort yang konyol : cita-cita untuk bundir, tentang mengeluh sampai bosan, tentang pelarian dan pencarian mencapai kebahagiaan sebenarnya.

Lelah membacanya? Tidak, malah hanyut dan sempat terukir di bibirku, “sial, kena nih”.

Mungkin saking banyak yang kena, jadinya aku hanya bisa mengutip peragraf2nya. Juga karena kata-katanya begitu jelasnya mendefinikan arti dari semua unsur dan akibat ketidakbahagiaan.

Tentang Lari Lari dan Lari
OTB= orang yang selalu berlari mencari-cari alasan dari pelariannya dan berlari untuk mencari-cari kesamaan ketidakbahagiaannya dengan ketidakbahagiaan orang lain dengan maksud agar ia tidak menjadi seorang picarresque yang kesepian?
Surat Yudha kepada Nina:
Tapi terkadang, manusia ingin juga bersetia. Dan itulah sebabnya, pasangan-pasangan menua bersama, memutih rambut bersama, dan menatap masa lalu dengan mata berkaca-kaca. Karena memang hidup itu membosankan, sedangkan yang lain hanyalah pelarian. Dan manusia terlalu lemah untuk hidup selalu dalam pelarian. Seperti kamu, aku juga lelah berlari, dan berharap dengan begitu hidup bisa menjadi lebih mudah. (E, 78-79)

Tentang sarcastic
OTB = orang yang selalu menilai apa saja dengan kedua sisi yang berbeda yang memihak pada kesinisan dan ambivalensi?
Kata-kata Nina tentang kemungkinan:
Siapa tahu, nanti kutemukan cara untuk tetap bahagia sekaligus kembali menderita.(E, 81)

OTB juga = orang yang bingung memilih karena pasrah, merasa semua akan berakhir sama yaitu menuju ambang ketidakbahagiaan?
Kata-kata Nina tentang selingkuh dengan Yudha:
Bukankah dalam setiap affair, selalu ada harapan yang dimatikan, dan ada harapan baru dimunculkan, walau terkadang cuma palsu. (E, 181)

Tentang memagari diri karena takut
OTB = orang yang takut sakit saat wilayah dirinya tak bisa berkompromi dengan yang lain karena ia tidak memahami bahwa sakit juga bagian dari hidup, selain nyaman?
Puisi Nina:
Karena aku tahu
Tak mungkin mencegah orang lain
Menyakiti hatiku
Maka
Aku mencegah hatiku
Dari merasakan sakit
Dan
Mencegah
Hatiku dari merasakan
Apa yang sedang kurasakan saat ini (E, 192)

Tentang tidak mencintai diri sendiri
OTB = orang yang suka menikmati ketidakbahagiaannya?
Yudha kepada Nina:
Kenapa ada orang yang dilahirkan dengan kesadaran bahwa mungkin, seperti kamu juga, tidak pernah merasa bahagia. Aku juga sadar aku justru malah menikmati ketidakbahagiaan.

Tentang menghayal bundir
OTB = orang yang selalu berpikir “what if”?
Nina berkhayal:
Kadang gue membayangkan lagi berendam di bathtub, lalu mengiris pergelangan gue pake cutter, aneh, rasanya nggak sakit tapi dingin. Gue mau masukin tangan ke dalam bathtub spy darahnya mengembang spt awan merah tapi tangan gue nggak bisa digerakkin. Darahnya menetes ke lantai kamar mandi, menenggelamkan seekor semut. Trus gue sadar wah gue nggak punya bathtub. (E, 211)

Tentang mendefinisi ketidakbahagiaan dengan bahasa
OTB = orang yang ucapannya malah semakin menjelaskan ketakutannya.
Aku mulai tertegun ketika membaca kata-kata Yudha mengenai bahasa dan dunia. Salah satu cara mengungkap-ungkap berbagai alasan dan ekspresi ketidakbahagiaan adalah dengan kata-kata, apakah itu bisa membuat seseorang bisa merasa lebih baik karena sudah membuangnya ke dalam tulisan/ucapan, atau malah….memperparah sudut pandangmu tentang dunia?
Surat Yudha kepada Nina:
Dunia bisa menjadi lebih indah, lebih menyadihkan, lebih sinis, lebih menakutkan, tergantung kata-kata yang kita gunakan. Tapi nyatanya, kenyataan yang kita ubah itu, ternyata hanya berubah di dalam pikiran kita sendiri, bukan? Kenyataan masih tetap sama, kering, kejam, dan membosankan. Dan mungkin karena itu kita berusaha menyaratinya dengan makna melalui bahasa. (E, 232)

Tentang Negatif vs Negatif
Nina si negatif satu, Yudha si negatif dua. Ketika keduanya berhasil menjadi sepasang kekasih yang sudah bisa dinyatakan legal, arti kebahagiaan yang selama ini mereka cari ternyata tidak seindah yang mereka pikir. Ketika negativitas satu bertemu dengan negativitas lainnya, tinggal menentukan siapa yang lebih lemah dan siapa yang lebih kuat menghadapi ketidakbahagiaanya masing-masing. Ternyata menghadapi ketidakbahagiaan berdua itu malah lebih ribet karena toh, ketidakbahagiaan itu bukan untuk dibagi-bagi tapi dimiliki secara privat sebagai hak yang tidak dapat diganggu gugat. (uh, ribet ya? Ga ngarti ya? Ya baca aja di meeting point nomor 7)

Tentang The untamed and tamed Fear
Sampai bab meeting point nomor 8, aku mulai bertanya-tanya, benarkah untuk menjadi bahagia adalah dengan menaruh ketakutan, harapan, keluhan kepada orang lain yang peduli dengan kita? Yang pasti, ketika aku membaca paragraf ini, aku juga berpikiran bahwa orang lain selain kita memang tidak berhak ikut memiliki ketakutan-ketakutan kita, kecuali bila orang itu memang begitu kuatnya mempertahankan ketulusannya atau orang itu terlalu bodoh menjadi recycle bin (ih…apa bedanya ya? Beda ah…ya kan? Ya kan!). Dan Harry, suami Nina menurut Yudha adalah orang yang mampu menghadapi ketakutan-ketakutan Nina:

…ia tidak hanya tidak takut dengan kegilaan-kegilaanmu, tetapi juga menerimanya dan bahkan mungkin memujanya….aku tahu kamu juga tidak bisa berbahagia hidup bersama orang yang tidak mengerti kamu. Tapi nampaknya kamu membutuhkan orang yang mencintaimu dengan semua kegilaanmu seperti Harry, dan juga mengerti kamu seperti aku mengerti dirimu. Dan orang itu bukan aku. (E, 281)

Melalui analogi penaklukannya terhadap si mini, anjing peliharaannya, Nina pun membalas ini dengan pendapatnya tentang bagaimana kegilaan dan ketakutan seseorang hanya bisa dihadapi oleh seseorang yang tidak punya ketakutan sama sekali:
Aku mengulurkan tangan dan ia mencoba menggigitnya, ia menggonggong semakin keras, terkencing-kencing dan terberak-berak saking takutnya. Aku tetap mengulurkan tangan, menyentuhnya, ia menggigit tanganku, tapi gigitannya bahkan terlalu lemah untuk menggores kulitku. Kutarik dia ke dekatku, ia meronta-ronta tidak mau. Tetapi ia kupeluk, kutempelkan bibir di daun kupingnya yang seperti beludru,…. Lalu aku duduk di kursi dan menaruhnya di pangkuanku, memegangnya erat-erat agar ia tak meloncat pergi. Kurasakan tubuhnya tegang di bawah tanganku, makin lama makin melemas. Ia tertidur lama sekali. Aku ingin sekali menjadi Mini. (E, 286)

Subject:Re: Dimana letak kebahagiaan?
Sampai hampir akhir novel ini, aku bisa menyimpulkan bahwa letak kebahagiaan adalah saat kita menemukan kebahagiaan bukan dari orang lain. The concept of happiness is not about being completed by other. Dan ini tertuang dari email Yudha si negatif dua kepada Nina si negatif satu:
Nina, kalau aku tidak bahagia, itu semua sama sekali tak ada hubungannya denganmu. Kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing. Aku hanya menyadari bahwa tidak mungkin aku bisa membahagiakan orang lain jika aku sendiri tidak merasa bahagia. (E, 282)

Jadi...?
Mencari-cari alasan dibalik pertanyaan tentang ketidakbahagiaan hanyalah salah satu cara Nina dan Yudha untuk mencari kebahagiaan. Tapi tidak semudah itu, ternyata ketidakbahagiaan adalah suara hati seseorang yang hanya bisa dihadapi dengan caranya sendiri.
Seringkali ada orang yang kesannya terlalu mendramatisir/meromantisasi ketidakbahagiaannya. Tapi ternyata seseorang itu tidak setidakbahagia yang sering dibayangkannya. The negative chatter akan selalu merenggut tapi saat yang sama, kenapa gak ditampolin aja dengan ketidakseriusan. Surat terakhir Yudha ini menarik garis merah dari semua lembaran keluhan ketidakbahagiaannya, bahwa kebahagiaan sebenarnya memang tidak ada karena bahagia itu bukan berarti sebuah karunia, melainkan sebuah usaha untuk menghadapi ketidakbahagiaan. Ini semua hanya sebuah cerita betapa naif-nya seseorang melihat sebuah kebahagiaan. Pada akhirnya, menjadi bahagia atau tidak, adalah sebuah pilihan.

-- THANK YOU VERY MUCH, REE! --

*pullquotes by Mandarin Design

LinkSubject: Re:Mar 2, '05 11:34 PM
for everyone
Link: http://subjectre.blogspot.com/

my first published novel


Blog EntryFrom Republika, Sunday EditionJan 16, '05 9:54 PM
for everyone

Minggu, 16 Januari 2005

Tidak Semua Penulis Tergoda

Popularitas chicklit dan teenlit ternyata tidak membuat semua penulis tergoda. Setidaknya, begitulah yang coba ditunjukkan Novita Estiti dalam karyanya, Subject:Re. Saat banyak orang berlomba-lomba untuk menulis chicklit, Novita malah mencak-mencak dengan stempel 'chicklit asli buatan Indonesia' yang ada di sampul bukunya.

Sejak awal, Subject:Re, yang diterbitkan Gagas Media, tidak pernah dimaksudkan sebagai chicklit. ''Stempel itu dicantumkan tanpa sepengetahuan saya,'' kata Novita. Menurutnya, seperti dikutip dari blogspotnya, novelnya tidak dapat masuk ke dalam definisi genre chicklit.

Subject:Re bercerita tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan, dengan proporsi yang sama besar. Tidak melulu bercerita tentang tokoh wanitanya. Tokoh wanitanya pun sudah menikah dan memiliki anak. Sedangkan chicklit, salah satu persyaratan utamanya adalah status lajang sang tokoh utama wanita.

Menurut Novita, cara penulisan Subject:Re pun sama sekali tidak dimaksudkan bersifat ringan dan menghibur. ''Dan yang paling utama, cerita ini tidak berkisah semata tentang kehidupan sehari-hari, tapi lebih kepada isu-isu yang mendalam dalam,'' jelasnya.

Menurut Novita, pihak Gagas Media mengakui bahwa stempel tersebut adalah tehnik pemasaran semata. Stempel chicklit diharapkan dapat memacu angka penjualan. Pihak Gagas Media sendiri berjanji tidak akan menyertakan stempel tersebut pada cetakan selanjutnya.

Menurut Novita, penolakannya terhadap stempel tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan citra chicklit ringan. ''Jangan salah, saya suka kok baca chicklit. Saya punya beberapa,'' tuturnya. Ia hanya tak mau mengecilkan sasaran pasarnya. Dengan stempel tersebut, Subject:Re kehilangan beberapa pembeli utamanya.

(mg07)



Blog EntryAnnoying ScenesDec 9, '04 5:52 AM
for everyone


After the book is published, I noticed that I have to go these scenes over and over again.

Scene 01.
+ Hey I heard you published a book! Congratulations!
- Thank you, thank you...
+ So, when will you give it to me?
- Well... you can buy it in the bookstores.
+ Buy it? I should have it for free! Am I not your friend?
- (actually, we barely know each other) I’m afraid you’ve got to buy it. It’s only Rp. 36.500,-
+ Oh darling, if I have to buy it, I won’t read it!
- Well, if you don’t want to buy it, I guess you don’t have to read it.

Scene 02.
+ I’ve heard there’s an affair in your book. Is it true?
- Yes, you might say that.
+ And is it true that it is the story of your life?
- Well, almost all writers inspired by the story of their own life.
+ So, is the affair a true story too?
-
As I’ve said before, it is inspired by my life. I’ve changed, added,
recreated, and eliminated some part of it and –by that- created a
fiction.
+ No, no, spare me that explanation..., I just want to know if the affair is true or not?
- Well, it is for me to know, and for you to keep your fucking nose off my private life.


Gold Account


Free shoutbox @ ShoutMix

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help