Novita's posts with tag: the blue book
Link: http://kusumaningtyaspuji.multiply.com/journal/item/5Remember this post about some girl who copied a few pages of my novel and claimed that she thought it was her own idea because she accidentally memorized those few pages? If you DO, then someone thinks you've made a reaaaally big mistake. (edited: click the above link to Tyas' post and read the replies to see what I mean) Some people really is living in their own universe, or simply leads a very boring life. Well, I don't deal with these kind of people anyway. But I just hate to see my new friend, Tyas, get this kind of treatment.
While blogwalking, I found this post in a girl's friendster blog.
---IYa, saya jadi nerka-nerka. Apa postingan seseorang ini ngutip chicklitnya mbak Novita Estiti ya? Kemaren saya dah nyoba komen di blognya, nanyain, tapi hari ini ketika saya berkunjung lagi, eh...komennya dah di off :D...sama persis dengan halaman 210 di novel Subject: Re., cuman tanggalnya aja yang dibedain :D---
And this is the post (after reading my post here, she has deleted it) she's talking about, written by a person who claims herself as 'a creative female' in her well-maintained blog.---Percakapan di Dunia Maya February 23rd, 2007 by rara Thursday 08/04/2004ladyblog: jaka..ladyblog: BUZZ!jazzlover: hey, apa kabarladyblog: lagi di mana?jazzlover: biasa lagi di ktr, buruh nihjazzlover: lg ngapain?ladyblog: :)ladyblog: yaaa ngurusin kerja juga dongz! :Dladyblog: eh enggak deng lagi nulis posting di blog dan chatting hehehe :Djazzlover: hahahajazzlover: wiken kemarin ngapain aja?ladyblog: abis berantem hiks :(jazzlover: wah kenapa? ada apa?ladyblog: yaa gitulah ngomongin soal hubungan asmara yang sudah mau berakhirladyblog: rumit, complicated!jazzlover: wah saya ndak pernah bisa bayangkan kau menangis :Dladyblog: hah?jazzlover: hehehe soalnya saya selalu bayangkan kau itu tukang marah-marah dengan dingin dan ketus.ladyblog: hehehe pertamanya begitu, trus wuaaaa pecah juga :Dladyblog: sayaaa jugaaa manusiaaaaaajazzlover: trus ada penyelesaian masalah nda?ladyblog: ada sih, tapi menyakitkan.jazzlover: boleh tau? tapi kalo nda mo jawab juga nda pa pa jiladyblog: the relationship will end soon!ladyblog: sedihnya itu pas anniversary kita yang ke-4 tahun :(ladyblog: sediiiiih :( :(jazzlover: yang benerrrr???ladyblog: iyaa.. huuuu mau nangiiiiis!jazzlover: sebenarnya yang paling penting adl kamu membuat suatu keputusan yg terbaik utk diri kamu sendiri, bukan demi siapa punladyblog: iya saya sadar itu.. sadar sekali itu..!jazzlover: boleh tau apa penyebab perpisahan ini?ladyblog: ah mungkin hubungan ini seharusnya tidak adaladyblog: he’s been very nice, trying very hard to follow me, tapi akhirnya tetap nggak bisa dan cape sendirijazzlover: dia juga nggak bahagia?ladyblog: tadinya ndak mo ngaku, akhirnya sadar juga kalau dia nda bahagialadyblog: dia bilang usahanya untuk mendekati saya malah membuat dia merasa lebih jauh dari saya, merasa jauh lebih bodoh dan susah mengerti sayaladyblog: apakah saya sesulit ituuuuu??? i feel so unloveable!jazzlover: ini bukan keputusan yang tergesa2 kan?ladyblog: nda juga, cukup lama ini untuk dibicarakan.ladyblog: bahkan sejak awal hubungan kita pun sudah mulai tercetusladyblog: sebenarnya seperti bom waktu, tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk meledak.jazzlover: semoga perpisahan in bisa berlangsung baik2ladyblog: iya makasihladyblog: dia adalah teman yang sangat baiiiik sekalijazzlover: saya nda bisa kasih saran apa2 dulu tapi yang jelas kalau ada apa2 saya akan bersedia menjadi pendengarladyblog: thx for listeningjazzlover: your welcomejazzlover: eh btw gimana dengan novel kamu? katanya nulis novel kan?ladyblog: yeah i’m upposed to write my first novel, then commit suicide kayak sylvia plathladyblog: tp krn kayaknya novelnya blum jadi2 ya langsung bunuh diri aja kali ya hehehejazzlover: eh iya novelmu belum selesai kan?jazzlover: nulis cerpen aja lebih pendekladyblog: ah tapi kan saya punya jurnal harian di blogladyblog: jadi orang2 bisa mengenang saya dengan membaca blog saya, lalu nulis simpati lewat shoutbox atau comment di posting blog saya, boleh juga kan?jazzlover: “salam kenal, mbak, lho mbaknya udah mati?”ladyblog: hehehe iya kayak gitu pasti seruladyblog: “yaah baru mau kenalan, orangnya sudah bunuh diri”jazzlover: “waa apdet dong! eh blum ada ya. belum ada internet sih di neraka.”ladyblog: “your life is very interesting, so is your death”jazzlover: hahahaha :D :D :Djazzlover: janji ya jangan bunuh diri dulujazzlover: jangan sampai saya baca betulan kayak gitu di blogmuladyblog: iya mudah-mudahan :Djazzlover: jangan dongladyblog: :)ladyblog has signed out. (08/04/2004 11:01 PM)jazzlover: BUZZ!jazzlover: BUZZ!jazzlover: BUZZ!jazzlover: wah ke mana anak ini kok langsung main kuit ajajazzlover: browsing ah..Sebuah browser terbuka di layar komputer itu. 10 jari menari-nari di atas keyboard memasukkan kata-kata ke dalam layar pendar tersebut. Thursday, April 08, 2004 I need to mourn. I don’t need your presence right now. Setiap orang punya masalah, hadapi saja sendiri-sendiri. Seperti diriku yang akan mengakhiri semuanya di sini. Saling menemani itu omong kosong. Untuk jazzloverku, I will miss you so much! Kita tidak akan bisa bersatu. Love ya. 2 unhappy people = 1 crazy to each other couple Terima kasih sayang. posted by ladyblog @ 08/04/2004 11:05 PM·|· Comment (0) | Trackback (0)jazzlover: BUZZ!jazzlover: BUZZ!jazzlover: aaaa jangan mati dulu dong! I love you too! You need to hear that!---Well, I have no idea what this girl was thinking, maybe she thought that she could do it better than me, with more suspense whatsoever.Or maybe she meant it as an ironic writing, and maybe I should just take it as a compliment. Though I'm really not sure why she has to bother putting those 'Blog juga hasil karya cipta' and 'Jangan asal copy paste' stuffs on her blog.
 (she has now changed the template right after reading this posting)
Whatever.
PS: to Tyas: thank you for reading the book, remembering some lines, and even comparing them. to Rara / Irayani Queencyputri: well, I've copied-pasted your blog...

This morning was started with an email from Donna, containing this link.
----------------------------------------------
Senin, 27 Feb 2006,
Berawal dari Coba-Coba
Ini
novel pertamaku. Dan langsung melibatkanku dalam konflik dengan
penerbit. Sebab, penerbit tanpa seizinku melabeli novel itu dengan
chicklit, yang notabene tidak sesuai dengan ceritanya. Yah, begitu deh
nasib novelis baru. Maklum, kurang pengalaman. Buatku, menulis itu
sekadar mengeluarkan apa yang ada dalam kepala. Karena itu, wajar saja
kalau pengalamanku mempengaruhi alur cerita. Karena itu pula, kalau ada
orang bilang, novel ini Novita Estiti banget, aku cuek saja. Yang
penting, masih ada yang baca. Termasuk kamu kan? Hayo, ngaku! Lagipula,
aku yakin belum ada novelis muda di negeri ini yang nekat bikin
penulisan ala e-mail. Semua itu berawal dari coba-coba. Aku berharap,
dengan gaya penulisanku itu, pembaca mengembangkan imajinasinya. Terus
terang, bikin novel ini tidak mudah lho. Apalagi buatku, yang
sebelumnya tidak pernah membayangkan bakal jadi novelis. (kee)
Novita Estiti Pengarang Subject: Re
----------------------------------------------
WHAT THE FUCK??!!
Yes, they've interviewed me several days before over the phone, but the
way the've written it made me sounds like a 15 years fucking old.
I sent them this email:
Saya baru saja menemukan ini di situs Jawa
Pos, dan terus terang cukup terkejut membaca hasil interview-nya yang
membuat saya seolah-olah baru berumur 15 tahun. Maaf ya, saya juga
wartawan dan sering meng-interview orang, tapi tidak seperti ini
caranya membuat sebuah tulisan. Anda tidak bisa mengubah begitu saja
cara penyampaian saya menjadi begitu kekanak-kanakan dan menuliskannya
seolah saya sendiri yang mengatakannya.
Saya tidak pernah
menggunakan kata 'novelis baru', 'maklum', 'cuek', 'hayo', 'ngaku',
dll. Bila Anda ingin tahu bagaimana saya berbicara selama interview
dengan saudara K****, kira-kira seperti inilah gaya bahasa yang saya
gunakan. Tentu saya mengerti bahwa bagian ini ditujukan untuk pembaca
berusia lebih muda, tetapi ada cara lain untuk melakukannya. Terus
terang, saya sangat kecewa dengan hal ini. Saya kira J*** P** merupakan
media yang terlalu dewasa untuk melakukan manipulasi karakter seperti
ini.
Terimakasih.

Ree's review for my book, SUBJECT: RE:
Beberapa bulan lalu aku tidak tertarik membelinya. Mungkin karena ada
label chiclit-nya ya, jadi takut ceritanya biasa aja. Pan
chiclit-chiclit di indonesia mah suka ngawang-ngawang…ga pake riset dan
setting yang jelas. Tapi pas aku menemukan sebuah blog berwarna ungu
yang menarik milik seseorang, aku baru tahu kalau didalamnya ada
archive, review dan comment tentang sebuah novel. Wah, tenggelam nih
baca semuanya sampai-sampai kerjaan gak selesai.
Judul novelnya, Subject: Re:
Tapi kini aku menamakannya (belum atas ijin penulis)
Subject: Re: dimana letak kebahagiaan?
Ada satir dan ocehan-ocehan sinis, namun tetap menyimpan kekonyolan dan
selentingan black humor yang menetralisir atau juga malah bisa
memperparah tema novel ini. Memang untuk menetralisir ungkapan-ungkapan
sinis, kadang-kadang kita butuh menjarakinya sejenak dengan humor dan
kekonyolan agar setidaknya kamu ini bukan orang yang pathetic amat. Ah
aku jadi sok sinis nih. Hehe. Selentingan humor ini mungkin bisa
menjadi anti-depressant yang manjur sesaat di saat kamu lelah mengeluh.
Intinya, jangan anggap seriuslah…namanya juga cerita…yuk kita bedah
novel si purple yang super ini. Tentunya dari subjektivitas aku ya.
Hm…mulai dari mana ya Nov?Ketika
negativitas satu bertemu dengan negativitas lainnya, tinggal menentukan
siapa yang lebih lemah dan siapa yang lebih kuat menghadapi ketidak-
bahagiaannya masing-masing.
Yang pasti aku suka sekali cara Novita merentangkan setiap kesadarannya
tentang ketidakbahagiaan. Percakapan-percakapan brilian sekaligus
konyol antara Yudha dan Nina mampu membuatku bisa ikut hanyut dalam
ketidakbahagiaan yang mengibakan. Percakapan yang dikemas online ini
jadi seperti chatters yang menghinggapi pribadi setiap manusia yang
rumit. Begitulah orang rumit, selalu mempertanyakan, berusaha untuk
selalu menjadi objektif, dan terkadang terpeleset karena
bahasa(kata-kata) dan pikiran bisa saling mengkhianati.
Struktur novel ini pun cukup nyaman dibaca, walaupun dikemas ala online
messenger-an, toh tidak mengganggu keutuhan cerita. Malahan semakin
melebar dan melengkapi. Tidak seperti novel-novel Indonesia berfragmen
lainnya yang kadang bikin keutuhan cerita jadi bolong. Novita secara
gamblang bisa mengungkapkan kenaifan Nina dan Yudha, tentang the last
resort yang konyol : cita-cita untuk bundir, tentang mengeluh sampai
bosan, tentang pelarian dan pencarian mencapai kebahagiaan sebenarnya.
Lelah membacanya? Tidak, malah hanyut dan sempat terukir di bibirku, “sial, kena nih”.
Mungkin
saking banyak yang kena, jadinya aku hanya bisa mengutip peragraf2nya.
Juga karena kata-katanya begitu jelasnya mendefinikan arti dari semua
unsur dan akibat ketidakbahagiaan.
Tentang Lari Lari dan Lari
OTB=
orang yang selalu berlari mencari-cari alasan dari pelariannya dan
berlari untuk mencari-cari kesamaan ketidakbahagiaannya dengan
ketidakbahagiaan orang lain dengan maksud agar ia tidak menjadi seorang
picarresque yang kesepian?
Surat Yudha kepada Nina:
Tapi
terkadang, manusia ingin juga bersetia. Dan itulah sebabnya,
pasangan-pasangan menua bersama, memutih rambut bersama, dan menatap
masa lalu dengan mata berkaca-kaca. Karena memang hidup itu
membosankan, sedangkan yang lain hanyalah pelarian. Dan manusia terlalu
lemah untuk hidup selalu dalam pelarian. Seperti kamu, aku juga lelah
berlari, dan berharap dengan begitu hidup bisa menjadi lebih mudah. (E,
78-79)
Tentang sarcastic
OTB = orang yang selalu menilai apa saja dengan kedua sisi yang berbeda yang memihak pada kesinisan dan ambivalensi?
Kata-kata Nina tentang kemungkinan:
Siapa tahu, nanti kutemukan cara untuk tetap bahagia sekaligus kembali menderita.(E, 81)
OTB juga = orang yang bingung memilih karena pasrah, merasa semua akan berakhir sama yaitu menuju ambang ketidakbahagiaan?
Kata-kata Nina tentang selingkuh dengan Yudha:
Bukankah
dalam setiap affair, selalu ada harapan yang dimatikan, dan ada harapan
baru dimunculkan, walau terkadang cuma palsu. (E, 181)
Tentang memagari diri karena takut
OTB
= orang yang takut sakit saat wilayah dirinya tak bisa berkompromi
dengan yang lain karena ia tidak memahami bahwa sakit juga bagian dari
hidup, selain nyaman?
Puisi Nina:
Karena aku tahu
Tak mungkin mencegah orang lain
Menyakiti hatiku
Maka
Aku mencegah hatiku
Dari merasakan sakit
Dan
Mencegah
Hatiku dari merasakan
Apa yang sedang kurasakan saat ini (E, 192)
Tentang tidak mencintai diri sendiri
OTB = orang yang suka menikmati ketidakbahagiaannya?
Yudha kepada Nina:
Kenapa
ada orang yang dilahirkan dengan kesadaran bahwa mungkin, seperti kamu
juga, tidak pernah merasa bahagia. Aku juga sadar aku justru malah
menikmati ketidakbahagiaan.
Tentang menghayal bundir
OTB = orang yang selalu berpikir “what if”?
Nina berkhayal:
Kadang
gue membayangkan lagi berendam di bathtub, lalu mengiris pergelangan
gue pake cutter, aneh, rasanya nggak sakit tapi dingin. Gue mau masukin
tangan ke dalam bathtub spy darahnya mengembang spt awan merah tapi
tangan gue nggak bisa digerakkin. Darahnya menetes ke lantai kamar
mandi, menenggelamkan seekor semut. Trus gue sadar wah gue nggak punya
bathtub. (E, 211)
Tentang mendefinisi ketidakbahagiaan dengan bahasa
OTB = orang yang ucapannya malah semakin menjelaskan ketakutannya.
Aku
mulai tertegun ketika membaca kata-kata Yudha mengenai bahasa dan
dunia. Salah satu cara mengungkap-ungkap berbagai alasan dan ekspresi
ketidakbahagiaan adalah dengan kata-kata, apakah itu bisa membuat
seseorang bisa merasa lebih baik karena sudah membuangnya ke dalam
tulisan/ucapan, atau malah….memperparah sudut pandangmu tentang dunia?
Surat Yudha kepada Nina:
Dunia
bisa menjadi lebih indah, lebih menyadihkan, lebih sinis, lebih
menakutkan, tergantung kata-kata yang kita gunakan. Tapi nyatanya,
kenyataan yang kita ubah itu, ternyata hanya berubah di dalam pikiran
kita sendiri, bukan? Kenyataan masih tetap sama, kering, kejam, dan
membosankan. Dan mungkin karena itu kita berusaha menyaratinya dengan
makna melalui bahasa. (E, 232)
Tentang Negatif vs Negatif
Nina
si negatif satu, Yudha si negatif dua. Ketika keduanya berhasil menjadi
sepasang kekasih yang sudah bisa dinyatakan legal, arti kebahagiaan
yang selama ini mereka cari ternyata tidak seindah yang mereka pikir.
Ketika negativitas satu bertemu dengan negativitas lainnya, tinggal
menentukan siapa yang lebih lemah dan siapa yang lebih kuat menghadapi
ketidakbahagiaanya masing-masing. Ternyata menghadapi ketidakbahagiaan
berdua itu malah lebih ribet karena toh, ketidakbahagiaan itu bukan
untuk dibagi-bagi tapi dimiliki secara privat sebagai hak yang tidak
dapat diganggu gugat. (uh, ribet ya? Ga ngarti ya? Ya baca aja di
meeting point nomor 7)
Tentang The untamed and tamed Fear
Sampai
bab meeting point nomor 8, aku mulai bertanya-tanya, benarkah untuk
menjadi bahagia adalah dengan menaruh ketakutan, harapan, keluhan
kepada orang lain yang peduli dengan kita? Yang pasti, ketika aku
membaca paragraf ini, aku juga berpikiran bahwa orang lain selain kita
memang tidak berhak ikut memiliki ketakutan-ketakutan kita, kecuali
bila orang itu memang begitu kuatnya mempertahankan ketulusannya atau
orang itu terlalu bodoh menjadi recycle bin (ih…apa bedanya ya? Beda
ah…ya kan? Ya kan!). Dan Harry, suami Nina menurut Yudha adalah orang
yang mampu menghadapi ketakutan-ketakutan Nina:
…ia tidak hanya
tidak takut dengan kegilaan-kegilaanmu, tetapi juga menerimanya dan
bahkan mungkin memujanya….aku tahu kamu juga tidak bisa berbahagia
hidup bersama orang yang tidak mengerti kamu. Tapi nampaknya kamu
membutuhkan orang yang mencintaimu dengan semua kegilaanmu seperti
Harry, dan juga mengerti kamu seperti aku mengerti dirimu. Dan orang
itu bukan aku. (E, 281)
Melalui analogi penaklukannya terhadap
si mini, anjing peliharaannya, Nina pun membalas ini dengan pendapatnya
tentang bagaimana kegilaan dan ketakutan seseorang hanya bisa dihadapi
oleh seseorang yang tidak punya ketakutan sama sekali:
Aku
mengulurkan tangan dan ia mencoba menggigitnya, ia menggonggong semakin
keras, terkencing-kencing dan terberak-berak saking takutnya. Aku tetap
mengulurkan tangan, menyentuhnya, ia menggigit tanganku, tapi
gigitannya bahkan terlalu lemah untuk menggores kulitku. Kutarik dia ke
dekatku, ia meronta-ronta tidak mau. Tetapi ia kupeluk, kutempelkan
bibir di daun kupingnya yang seperti beludru,…. Lalu aku duduk di kursi
dan menaruhnya di pangkuanku, memegangnya erat-erat agar ia tak
meloncat pergi. Kurasakan tubuhnya tegang di bawah tanganku, makin lama
makin melemas. Ia tertidur lama sekali. Aku ingin sekali menjadi Mini.
(E, 286)
Subject:Re: Dimana letak kebahagiaan?
Sampai hampir
akhir novel ini, aku bisa menyimpulkan bahwa letak kebahagiaan adalah
saat kita menemukan kebahagiaan bukan dari orang lain. The concept of
happiness is not about being completed by other. Dan ini tertuang dari
email Yudha si negatif dua kepada Nina si negatif satu:
Nina, kalau
aku tidak bahagia, itu semua sama sekali tak ada hubungannya denganmu.
Kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing. Aku hanya menyadari
bahwa tidak mungkin aku bisa membahagiakan orang lain jika aku sendiri
tidak merasa bahagia. (E, 282)
Jadi...?
Mencari-cari alasan
dibalik pertanyaan tentang ketidakbahagiaan hanyalah salah satu cara
Nina dan Yudha untuk mencari kebahagiaan. Tapi tidak semudah itu,
ternyata ketidakbahagiaan adalah suara hati seseorang yang hanya bisa
dihadapi dengan caranya sendiri.
Seringkali ada orang yang kesannya
terlalu mendramatisir/meromantisasi ketidakbahagiaannya. Tapi ternyata
seseorang itu tidak setidakbahagia yang sering dibayangkannya. The
negative chatter akan selalu merenggut tapi saat yang sama, kenapa gak
ditampolin aja dengan ketidakseriusan. Surat terakhir Yudha ini menarik
garis merah dari semua lembaran keluhan ketidakbahagiaannya, bahwa
kebahagiaan sebenarnya memang tidak ada karena bahagia itu bukan
berarti sebuah karunia, melainkan sebuah usaha untuk menghadapi
ketidakbahagiaan. Ini semua hanya sebuah cerita betapa naif-nya
seseorang melihat sebuah kebahagiaan. Pada akhirnya, menjadi bahagia
atau tidak, adalah sebuah pilihan.
-- THANK YOU VERY MUCH, REE! --
Minggu, 16 Januari 2005
Tidak Semua Penulis Tergoda
Popularitas chicklit dan teenlit ternyata tidak membuat semua penulis tergoda. Setidaknya, begitulah yang coba ditunjukkan Novita Estiti dalam karyanya, Subject:Re. Saat banyak orang berlomba-lomba untuk menulis chicklit, Novita malah mencak-mencak dengan stempel 'chicklit asli buatan Indonesia' yang ada di sampul bukunya.
Sejak awal, Subject:Re, yang diterbitkan Gagas Media, tidak pernah dimaksudkan sebagai chicklit. ''Stempel itu dicantumkan tanpa sepengetahuan saya,'' kata Novita. Menurutnya, seperti dikutip dari blogspotnya, novelnya tidak dapat masuk ke dalam definisi genre chicklit.
Subject:Re bercerita tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan, dengan proporsi yang sama besar. Tidak melulu bercerita tentang tokoh wanitanya. Tokoh wanitanya pun sudah menikah dan memiliki anak. Sedangkan chicklit, salah satu persyaratan utamanya adalah status lajang sang tokoh utama wanita.
Menurut Novita, cara penulisan Subject:Re pun sama sekali tidak dimaksudkan bersifat ringan dan menghibur. ''Dan yang paling utama, cerita ini tidak berkisah semata tentang kehidupan sehari-hari, tapi lebih kepada isu-isu yang mendalam dalam,'' jelasnya.
Menurut Novita, pihak Gagas Media mengakui bahwa stempel tersebut adalah tehnik pemasaran semata. Stempel chicklit diharapkan dapat memacu angka penjualan. Pihak Gagas Media sendiri berjanji tidak akan menyertakan stempel tersebut pada cetakan selanjutnya.
Menurut Novita, penolakannya terhadap stempel tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan citra chicklit ringan. ''Jangan salah, saya suka kok baca chicklit. Saya punya beberapa,'' tuturnya. Ia hanya tak mau mengecilkan sasaran pasarnya. Dengan stempel tersebut, Subject:Re kehilangan beberapa pembeli utamanya.
(mg07)
After the book is published, I noticed that I have to go these scenes over and over again.
Scene 01. + Hey I heard you published a book! Congratulations! - Thank you, thank you... + So, when will you give it to me? - Well... you can buy it in the bookstores. + Buy it? I should have it for free! Am I not your friend? - (actually, we barely know each other) I’m afraid you’ve got to buy it. It’s only Rp. 36.500,- + Oh darling, if I have to buy it, I won’t read it! - Well, if you don’t want to buy it, I guess you don’t have to read it.
Scene 02. + I’ve heard there’s an affair in your book. Is it true? - Yes, you might say that. + And is it true that it is the story of your life? - Well, almost all writers inspired by the story of their own life. + So, is the affair a true story too? - As I’ve said before, it is inspired by my life. I’ve changed, added, recreated, and eliminated some part of it and –by that- created a fiction. + No, no, spare me that explanation..., I just want to know if the affair is true or not? - Well, it is for me to know, and for you to keep your fucking nose off my private life.
| |